Karakter Guru (?)

Guru kreatif itu bagus, Guru inovatif itu bagus, Guru kritis itu bagus. Tapi bagaimana kalau itu semua diekspresikan dengan cara yang kurang santun?  lhooo kok?

Perasaan kurang “nyaman” ini muncul setelah 7 tahun membantu Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olah Raga Provinsi DIY sebagai instruktur pelatihan TIK guru se DIY. Pada pelatihan tahun ini saya beberapa kali menemukan cara-cara mengungkapkan kelebihan potensi diri dengan cara yang kurang simpatik. Contohnya: sering mengeluarkan kata secara spontan (bahasa jawanya “nylekop”) saat instruktur menerangkan, ramai mengobrol yang topiknya tidak ada hubungannya dengan materi pelatihan, mengganggu laptop instruktur saat materi pengelolaan moodle (semua laptop dan komputer sudah dalam networking), asyik membuka facebook saat instruktur menerangkan, dll.

Bila tindakan-tindakan yang saya contohkan itu dilakukan oleh siswa, sepertinya masih bisa dianggap wajar. Tapi bila dilakukan oleh guru, sepertinya harus menjadi keprihatinan kita semua. Peribahasa “guru kencing berdiri murid kencing berlari” benar-benar akan terwujud dalam berbagai bentuk, seperti nilai kejujuran, sopan-santun, kedisiplinan, nilai kebersamaan, semangat bekerja keras, dll.

Pofesi Guru adalah profesi yang dapat menentukan kualitas bangsa pada masa mendatang. Tugas guru adalah menyiapkan generasi yang akan menjadi pemimpin, baik pemimpin di tingkat nasional maupun di tingkat rumah tangganya sendiri. Guru yang profesional tidak hanya membangun intelektual siswa tetapi yang lebih penting adalah membangun karakter siswa. Hal ini sesuai dengan tujuan pendidikan yaitu merubah tingkah laku.

Saat ini, untuk menjadi seorang guru harus lolos dari beberapa persyaratan yang tidak mudah, diantaranya minimal pendidikan S1 atau D4 dan memiliki sertifikat/ijazah profesi kependidikan (A4). Pada pendidikan profesi guru diajarkan materi cara-cara belajar, cara-cara mengajar/mendidik, dan kristalisasi jiwa seorang pendidik yang tertuang pada kode etik guru. Dengan kompetensi seperti itu diharapkan guru dapat menjadi guru yang profesional, dapat dijadikan idola bagi siswanya dan dijadikan tauladan bagi siswa-siswanya.

Karena jumlah guru yang pensiun lebih banyak dari jumlah perekrutan guru, maka saat ini banyak sekolah mengalami kekurangan guru. Untuk memenuhi kebutuhan guru, sekolah melakukan perekrutan mandiri. Dalam proses perekrutan, sekolah tidak dapat berpatokan pada persyaratan kompetensi minimal seorang guru, karena tidak ada ketersediaan dana. Yang akhirnya terjadilah penerimaan guru yang tidak sesuai dengan tuntutan kompetensi.

This entry was posted in Pendidikan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s